DINAMIKA KELOMPOK DI KAMPUNG PABUARAN - News Artikel
Headlines News :
Home » , , » DINAMIKA KELOMPOK DI KAMPUNG PABUARAN

DINAMIKA KELOMPOK DI KAMPUNG PABUARAN


A.  Pengertian Dinamika Kelompok
      1.   Pengertian Kelompok
            Individu-individu yang menempati suatu wilayah tertentu merupakan suatu perkumpulan atau disebut dengan kelompok. Dengan demikian bahwa kehidupan individu itu tidak terlepas dari kelompok, baik dalam kehidupan kelompok yang kecil seperti ; keluarga, kelompok kerja, maupun kehidupan kelompok yang besar seperti ; Masyarakat, bangsa dan sebagainya.
            Menurut Hernert Smith bahwa “kelompok adalah suatu uni yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”.
            Pengertian kelompok di atas secara singkat dapat diartikan bahwa kelompok adalah suatu kumpulan dari orang-orang yang mengadakan interaksi dengan sesamanya lebih sering daripada mereka mengadakan interaksi yang bersifat perorangan. Jadi setiap kelompo, masing-masing individu mempunyai sikap dan tingkah laku yang sama dengan anggota kelompok yang lain, sehingga semua anggota kelompok memiliki sikap dan tingkah laku yang seragam.
            Dari uraian di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa kelompok kumpulan individu yang mengadakan interaksi yang mendalam satu sama lain dan memiliki kesatuan persepsi untuk bertingkah lamu di dalam maupun di luar kumpulannya.

      2.   Pengertian Dinamika
            Setiap kelompok telibat adanya perubahan setiap saat baik secara besar-besaran maupun secara kecil atau perubahan itu secara cepat maupun lambat, di mana perubahan ini menyebabkan adanya perbedaan keadaan kelompok dengan keadaan sebelumnya.
            Sebagaimana menurut Drs. Soelaiman Joesoyf, memberikan batasan bahwa “Perubahan secara besar maupun secara kecil atau perubahan secara cepat atau lambat itu sesungguhnya adalah suatu dinamika, artinya suatu kenyataan yang berhubungan dengan perubahan keadaan”.
            Dari uraian tersebut di atas, maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dinamika adalah suatu perubahan, baik secara besar-besaran atau kecil maupun perubahan yang secara cepat atau lambat, sehinggan merupakan dari suatu kenyataan yang berhubungan dengan suatu keadaan.

      3.   Pengertian Dinamika Kelompok
            Dari uraian dinamika dan kelompok itu dapatlah diambil kesimpulan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Drs. Soelaiman Joesoyf menyebutkan : “bahwa Dinamika Kelompok berarti suatu kumpulan dari dua atau lebih individu di mana perubahan individu satu dapat mempengaruhi individu lain.
            Keadaan inI bisa terjadi, karena masing-masing individu mempunyai hubungan psikis secara jelas, yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama dalam kelompok di mana mereka menjadi anggotanya.
            Sebagai suatu gambaran, setiap anggota kelompok belajar saling berusahan sekeras-kerasnya dalam menenmpuh tentamen, sehingga ia dapat lulus seperti teman-temannya yang lain. Dalam keadaan ini masing-masing anggota kelompok selalu memperhatikan kegiatan anggota kelompok yang lain, seperti apabila seseorang anggota kelompok mempelajari 2 buku literatur yang ditentukan, maka yang lain berusaha mempelajari buku-buku tersebut ditambah buku-buku literatur lain sebagai penunjang. Di sini tampak setiap anggota kelompok meningkatkan kegiatan belajar bagi dirinya sendiri dan inilah proses dinamika yang dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok.
            Secara keseluruhan, proses dinamika dalam kelompok-kelompok dapat diterangkan, karena selama setiap anggota kelompok berada dalam kelompok, mereka dihinggapi oleh group spirit (semangat kelompok) yang terus-menerus dan makin lama makin mendalam.


B.  Terjadinya Dinamika Kelompok Lingkungan Kampung Pabuaran dan Ciri-Cirinya
            Terjadinya masyarakat masyarkat Kampung Pabuaran tersusun dari sejumlah individu-individu dan keluarga-keluarga, sehingga terbentuk suatu masyarakat yang menetap di suatu wilayah, yakni Kampung Pabuaran.
            Dengan adanya suatu keluarga, yang akhirnya membetuk suatu kelompok-kelompok yang mendiami suatu wilayah. Dan kelompok-kelompok itu di dalam terjadi saling interaksi, sehingga terjadi perubahan baik itu secara besar-besaran atau kecil maupun perubahan yang secara cepat atau lambat untuk menuju pada perubahan yang nyata dalam keadaan tertentu, ini dinamakan dinamika kelompok lingkungan.
            Begitu pula perubahan-perubahan yang terjadi di Kampung Pabuaran yang dihasilkan dari proses interaksi antar individu yang mendiami wilayah Kampung Pabuaran, seperti halnya awal mulanya bahwa pedesaan itu adalah hutan, dan kemudian hutan tersebut dibuka oleh warga untuk ditanami/dibuat ladang. Hal sebagai mana menurut Sajogyo & Pudjiwati Sajogyo sebagai berikut :
      Kelompok perintis-perintis pertama yang maju ke muka untuk membuka hutan, sudah mempunyai pemimpin, yaitu umumnya orang yang telah mendapat “mandat perintisan” itu. Pemimpin perintisan itu sering mendapat julukan : “kepala tebang”. Pengikut (rakyat) yang dapat dikumpulkan oleh “kepala tebang” itu, dan wilayah penebangan (teritorial) yang mulai dapat direbut dari hutan, merupaka unsur gambaran suatu embrio “desa Jawa” yang tumbuh.

            Dengan demikian maka jelaslah bahwa suatu desa berkembang awalnya merupakan hutan, sehingga pengikut yang turut membuka hutan dan bertanam di ladang pertama kali, menjadi daftar cacah jiwa desa, di mana kecuali nama tiap kepala keluarga kemudian tercatat pula nama isteri dan anak-anaknya, sesuai dengan gambaran pemindahan anggota-anggota keluarga itu setelah menyusul.
            Dengan bertambah banyaknya rakyat, mulailah diadakan pembantu-pembantu lain dari lurah yaitu kabayan yang menjadi penyambung lurah ke bawah. Jika ada leih dari seorang labayan, maka hal itu berarti pembagian rakyat atas kelompok-kelompok, untuk keperluan melancarkan komunikasi antara rakyat (masing-masing kepala kerluarga). Unsur rakyat adalah dengan nyata ditegaskan sebagai rakyat yang menetap.
            Pada prakteknya yang terjadi adalah bahwa batas antara desa yang satu dengan desa-desa baru satu sama lain pada mulanya terjadi perebutan batas desa. Khususnya lembah-lembah sungai, yang diharap dapat dijadikan sawah.
            Usaha mengatur masyarakat desa itu terwujud pula dalam rupa-rupa tatanan alam fisis sekeliling, di mana masyarakat desa itu menetap. Untuk usaha pertanian, pokok penghidupan di tempat baru itu pertama-tama diperlukan pembagian sebidang tanah untuk masing-masing. Kemudian sesudah perladangan pertama berhasil dan hasrat berkampung makin kuat, perlu menyusul tatanan yang membeda-bedakan bagian kampung dari bagaian tanah pertanian. Di situ ternyata bahwa keperluan membuat jalan antara bagian-bagian itu, khususnya antara kampung-kampung satu sama lain, telah dipikirkan sebelumnya. Sebab di samping yang terlihat bahwa masing-masing desa dalam embrio itu ke dalam memperkuat susunan masyarakat desa masing-masing yang teratur, seluruh masyarakat perintis di daerah pembukaan baru itu merasakan diri sebagai satu kesatuan besar, di mana masing-masing desa mengambil bagian. Salah satu wujud yang nyata dari kebutuhan berhubungan satu sama lain ialah pembuatan jalan-jalan, yang dikerjakan oleh masing-masing desa dan dipersambungkan satu sama lain, termasuk jembatan-jembatan di atas jurang-jurang atau anak-anak sungai.
            Begitulah terjadi suatu desa, di mana proses terjadi antara desa yang satu dengan yang lainnya akan terjadi suatu persamaan. Dan begitu juga terjadinya suatu perkampungan. Bahwa suatu desa itu akan terdiri dari beberapa kampung, seperti halnya Kampung Pabuaran merupakan suatu perkampungan yang berlokasi berbatasan dengan kami Gunung Salak, di mana masyarakatnya mayoritas bertani, berladang dan berdagang.


            Adapun ciri-ciri dari kampung Pabuaran adalah :
1.          mempunyai rakyat atau penduduk yang menetap.
2.          mempunyai wilayah kampung yang tegas batas-batasnya.
3.          mempunyai kepala dusun sebagai pucuk pimpinan kampung.
4.          memperlihatkan kegiatan-kegiatan masyarakat sebagai kesatuan kampung.

C.  Terjadinya Perkembangan Penduduk dan Potensi Lingkungan yang terjadi di Lingkungan Kampung Pabuaran
            Memperoleh keturunan merupakan harapan setiap pasangan yang baru membangun rumah tangga. Harapan ini tidak saja karena keturunan itu dapat memperkekal perkawinan, tetapi juga karena keturunan inilah yang diharapkan akan mewarisi kekayaan dan menjamin hidup mereka di hari tua. Karena itu, kelahiran seorang anak, terutama anak pertama dan seorang laki-laki, merupakan peristiwa yang sangat penting. Berbagai upacara dan pesta kecil dilakukan menjelang dan pada waktu kelahiran seorang anak.
            Dari teori-teori kependudukan yang dikemukakan oleh para ahli dan uraian mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bagi kehidupan penduduk selalu dikaitkan antara jumlah penduduk dan persediaan bahan makanan. Bahan makanan bersumber pada areal tanah di bumi, yang secara proporsional, luasnya dibandingkan dengan jumlah manusia yang menghuninya.
            Jadi ukurannya bersifat ekonomis. Dengan demikian akan terdapat suatu keadaan kepadatan penduduk pada bagian bumi ang dihuni manusia. Kepadatan masing-masing daerah tidak sama dan berubah-ubah tergantung pada keadaan kelahiran dan kematian serta factor-faktor yang lain.
            Kepadatan penduduk penting sekali atrinya untuk mengetahui perkembangan penduduk suatu daerah/negara dan untuk mengetahui gejala-gejala social masing-masing daerah/negara tersebut.
            Terjadinya suatu kepadatan penduduk dapat kita terlebih dahulu kelebihan penduduk, kekurangan penduduk, penduduk optimum, dan peledakan penduduk.

      1.   Kelebihan Penduduk
            Suatu keadaan pada daerah tertentu selama waktu yang tertentu/terbatas di mana bahan-bahan kebutuhan hidup tidak mencukupi lagi secara layak bagi penduduk yang mendiaminya, dinamakan kelebihan penduduk.
            Daerah-daerah atau negara-negara yang mengalami kelebihan penduduk ini biasanya ditandai oleh sulitnya pemenuhan kebutuhan pokok yaitu makanan, sandang dan perumahan oleh sebagian besar penduduk daerah atau negara tersebut. Oleh karena itu, maka Pulau Jawa dikatakan sudah kelebihan penduduk, karena sebagian besara penduduknya tidak dapat hidup dengan layak. Sebab kebutuhan pokoknya tidak mungkin terpenuhi. Sebaliknya negeri Belanda walaupun padat juga penduduknya, tetapi tidak dikatakan kelebihan penduduk, karena penduduknya dapat hidup dengan layak. Ini terlihat daripada pendapatan perkapitanya yang cukup tinggi.



      2.   Kekurangan Penduduk
            Suatu keadaan pada suatu daerah tertentu di mana jumlah kekayaan alam yang ada, hanya sedikit saja yang dapat diusahakan untuk keperluan hidupnya, karena tidak tersedia tenaga dinamakan kekurangan penduduk.
            Jadi daerah tersebut ditandai oleh kekurangan tenaga kerja untuk mengolah kekayaan yang dimilikinya. Baiknya kelebihan penduduk maupun kekurangan penduduk merupakan masalah kependudukan yang tidak dikehendaki oleh setiap daerah atau negara.
            Daerah-daerah di Indonesia yang dapat dikatakan kekurangan penduduk adalah daerah-daerah yang sekarang dijadikan daerah tujuan transmigrasi, seperti halnya daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sedangkan negara-negara yang dapat dikatakan kekurangan penduduk adalah umpamanya Brazilia, yang menerima imigran dari Jepang, Australia yang menerima imigran dari Eropa, kebanyakan dari Eropa Selatan serperti Italia dan Yunani.

      3.   Penduduk Optimum
            Suatu keadaan pada suatu daerah tertentu yang mempunyai jumlah penduduk yang sebaik-baiknya. Keadaan ini merupakan batas antara kelebihan penduduk dan kekurangan penduduk. Penduduk yang optimum dapat dilihat dari bermacam-macam segi, umpamanya segi administrasi, segi kebudayaan dan segi militer.
            Penduduk optimum yaitu jumlah penduduk yang dapat menghasilkan secara maksimal per-kapita dari kekayaan alam yang tersedia dan teknologi yang berlaku di sana. Tetapi ada pula yang menambahkan bahw apenduduk optimum sebenarnya tergantung kepada tempat dan saat, artinya untuk tempat dan saat yang berbeda, lain pula ukurannya. Ada juga yang berpendapat bahwa penduduk optimum hanya berlaku untuk daerah-daerah agraris saja dan tidak berlaku untuk daerah industri. Alasannya ialah bahwa pada negara-negara agraris struktur perekonomiannya bersifat statis untuk jangka yang panjang. Dan untuk negara-negara agraris ini jumlah manusia selalu dikaitkan dengan jumlah makanan yang ada.
            Pada daerah atau negara industri, teknologi dapat berkembang dengan cepat, dan bukan jumlah orang yang makan tapi jumlah pasaran di luar negeri yang penting. Contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah negara-negara sedang berkembang dapat mencapai penduduk optimum, karena negara-negara tersebut masih bertulang punggung pada struktur ekonoi agraris dan perkembangan industri akan makan waktu yang lama.

      4.   Tingkat Kehidupan Penduduk
            Tingkat kehidupan sesuatu bangsa dapat diketahui dengan mempergunakan berbagai ukuran. Keadaan nilai gizi, kalori dan banyaknya protein per kapita per hari merupakan ukuran penting. Karena hal itu akan mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap bentuk tubuh, keindahan, kekuatan serta daya tahan dan tingkat kecerdasan seseorang, sekeluarga ataupun sesuatu bangsa. Dilihat dari segi ini sangatlah menyedihkan keadaan di Indonesia, jika kita bandingkan dengan keadaan di negara-negara maju. Setiap penduduk Indonesia rata-rata hanya dapat mengkonsumsi antara 2½ sampai 3 kg daging pertahun dan kira-kira 1 buah telur rata-rata dalam 1 bulan. Sedangkan di Eropa atau Amerika Utara setiap penduduk rata-rata makan daging sampai 75 kg per tahun. Maka tidaklah mengherankan bila keadaan tubuh dan kemampuan berfikir bangsa kita masih berada dalam keadaan sekarang ini.
            Setiap orang, keluarga mempunyai standard kehidupan masing-masing. Begitu pula bahwa standard kehidupan selain dilihat dari tiap suatu keluarga, maka akan berkembang menjadi pada setiap lingkungan atau daerah tertentu, yang akhirnya suatu standard kehidupan suatu bangsa atau negara


DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, Ciri-ciri dari Kehidupan Masyarakat Pedesaan di Indonesia, _________, Jakarta
 Sajogyo & Pudjiwati Sajogyo, Sosiologi Pedesaan, 1985, Gadjah Mada University Press, Bogor.
 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, 1982, CV. Rajawali, Jakarta.
 Soelaiman Joesoef, Drs., & Slamet Iman Santoso, Drs., Materi Pokok Dinamika Kelompok, 1986, Penerbit Karunika, Universitas Terbuka, Jakarta.
 Soelaiman Joesoef, Drs. Dan Slamet Santoso, Drs., Dinamika Kelompok, 1983, Surabaya.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. News Artikel - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger